SLOKA
1.Sloka tentang Sradha / Keyakinan
Atman adalah sinar
suci / bagian terkecil dari Brahman ( Tuhan Yang Maha Esa ). Atman berasal dari
kata AN yang berarti bernafas. Setiap yang bernafas mempunyai atman, sehingga
mereka dapat hidup. Atman adalah hidupnya semua makluk ( manusia, hewan,
tumbuhan dan sebagainya ). Kitab suci Bhagawad gita menyebutkan sebagai berikut
:
“aham atma gudakesa, sarwabhutasaya-sthitah,
aham adis ca madhyam ca, bhutanam anta eva ca”
artinya :
O, Arjuna, aku adalah atma, menetap dalam hati semua
makluk, aku adalah permulaan, pertengahan, dan akhir daripada semua makluk.(
Bhagawadgita X.20 )
Sifat
– sifat atman meliputi :
a) acchedya berarti tak terlukai senjata,
b) adahya berarti tak terbakar oleh api,
c) akledya berarti tak terkeringkan oleh angin,
d) acesya berarti tak terbasahkan oleh air,
e) nitya berarti abadi,
f) sarwagatah berarti ada di mana-mana,
g) sathanu berarti tidak berpindah – pindah,
h) acala berarti tidak bergerak,
i) awyakta berarti tidak dilahirkan,
j) achintya berarti tak terpikirkan,
k) awikara berarti tidak berubah,
l) sanatana berarti selalu sama.
2.Sloka tentang Dharma /
Kebaikan
“Satyaṁ
brūyat priyaṁ,
priyaṁ ca nānṛtaṁ brūyād eṣa dharmaá sanātanaá”.
Terjemahannya :
priyaṁ ca nānṛtaṁ brūyād eṣa dharmaá sanātanaá”.
Terjemahannya :
“Hendaknya ia mengatakan apa yang benar, hendaknya ia mengucapkan apa yang
menyenangkan hati, hendaknya ia jangan mengucapkan kebenaran yang
tidak menyenangkan dan jangan pula ia mengucapkan kebohongan
yang menyenangkan, inilah hukum hidup duniawi yang abadi”
(M.Dharmasastra IV.138).
3.sloka tentang tujuan hidup
Anakukamung
Janamejaya, salwirning warawah, yawat makapadarthang caturwarga, sawataranya,
sakopanyasanya, hana juga ya ngke, sangksepanya, ikang hana ngke, ya ika hana
ing len sangkeriki, ikang tan hana ngke, tan hana ika ring len sang keriki.
Terjemahan: Anaknda Janamejaya, segala ajaran
tentang Catur Warga (Dharma=kebajikan, Artha=kekayaan, Kama=kesenangan dan
Moksa=kebebasan) baikpun sumber, maupun uraian tafsirnya ada disini; segala
yang terdapat disini akan terdapat dalam sastra lain; yang tidak terdapat
disini juga tidak akan terdapat pada sastra lain.
4.Sloka Rg
Veda tentang Yajna
Purusa evedam sarvam
Yadbhutam yacca bhavyam
Utamrtatvasyesa no
Yadannenati rohati.
Rgveda X.90.2.
Artinya:
(Tuhan sebagai wujud kesadaran agung merupakan asal
dari segala yang telah dan yang akan ada. Ia adalah raja di alam yang abadi dan
juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan makanan)
Ulasan:
Tuhan merupakan keuniversalan dari segala apa yang telah ada di dunia Bila
kita megkaji Kitab Suci Veda maupun praktek keagamaan di India dan di Indonesia
(Bali) maka Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan berbagai nama. Berbagai wujud
digambarkan untuk Yang Maha Esa itu, walaupun Tuhan Yang Maha Esa tidak
berwujud dalam pengertian materi maupun dalam jangkauan pikiran manusia, dan di
dalam bahasa sansekerta disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam
alam pikiran manusia (Monier, 1993 : 9), dan dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan:
“ Tan kagrahita dening manah mwang indriya” (Tidak terjangkau oleh akal dan
indriya manusia).
Bila Tuhan Yang Maha Esa tidak berwujud, akan muncul pertanyaan mengapa
dalam sistem pemujaan kita membuat bangunan suci, arca, pratima, pralingga, mempersembahkan
bhusana, sesajen dan lain-lain. Bukankah semua bentuk perwujudan maupun
persembahan itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud dalam
pikiran manusia? Sebelum kita tinjau lebih jauh lagi membahas tentang Tuhan
Yang Maha Esa, kita tinjau definisi atau pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa
yang di kemukakan oleh maharsi Vyasa yang dikenal juga dengan nama Badarayana
dalam bukunya: Brahmasutra, Vedantasastra atau vedantasara, sebagai berikut:
Janmadyasya yatah (I.1.2), yang oleh Swami Sivananda (1977) diterjemahkan
sebagai berikut: Brahman adalah asal muasal dari alam semesta dan segala isinya
(janmadi= asal, awal, penjelmaan dan sebagainya, asya= dunia/alam semesta ini,
yatah= dari padanya). Jadi menurut sutra (kalimat singkat dan padat) ini, Tuhan
Yang Maha Esa yang disebut Brahman ini merupakan asal muasal dari
segalanya.Demikianlah pula, Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber segalanya dan
sumber kebahagiaan hidup.
5. Sloka
tentang Penebusan dosa
Weda khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam,
acarasca iwa sadhunam
atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).
Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).
Mohon hati-hati mengutip shloka.
BalasHapussatyaṁ brūyāt priyaṁ brūyān na brūyāt satyam apriyam,
priyaṁ ca na-anṛtaṁ brūyād eṣa dharmaḥ sanātanaḥ